11 Mei 2008

BANGKIT 2008; Berkaca dari Bencana

*Edi Susilo

Hantaman suara gemuruh ombak yang maha dahsyat di ujung sumatra, disambut sorak-sorai tangisan bocah di Yogyakarta, “sorak sorai” itu semakin menyayat dengan dihiasi indahnya air mancur lumpur Sidoarjo yang memaksa setiap renta berbondong-bondong harus angkat kaki dari sana. Lumpar panas itupun tidak sendiri berjuta kubik air di ibu kota negara mengimbangi panasnya lumpur itu. Belum lagi semuanya menyelesaikan cerita, Adam Air ikut-ikutan menghilang, Levina dan Senopati pun turut bersimpati dan demi menjaga solidaritasnya Garuda turut mengamini. Dan pagi ini juga masih kita dengar tanah di Karanganyar, Jawa Tengah karena kesetiakawananya bersama-sama longsor menimbulkan kengerian dan rentetan kisah duka, akibat bencana di negari ini.
Bencana yang bertubi-tubi telah meninggalkan secuil cerita di negeri ini dan segera saja mendatangkan simpati, berbagai bantuan kemanusiaan membanjiri. Berita headline di berbagai media Indonesia juga mancanegara, terisi liputan mendalam soal bencana. Komitmen negara-negara donor baik melalui pemerintah maupun organisasi nonpemerintah (NGO) untuk menyumbangkan dana. Namun sebenarnya Selain bencana fisik yang terjadi yang menyisakan bolong besar yang harus ditambal dengan susah payah, yang jauh lebih berbahaya justru adalah dimensi budaya yang terancam akibat derasnya globalisme yang hadir bersama isu pemberian bantuan kemanusiaan. Kita bisa melihat sedikit kenyataan sungguh miris memang kalau dibandingkan dengan kondisi keseharian para pengungsi. Sulit untuk tidak mengatakan kehadiran para pemberi bantuan dan NGO seperti di Aceh dan di Yogyakarta itu sekadar bentuk eksibisionisme di tengah labirin penderitaan rakyat korban tsunami juga gempa bumi yang seakan tak bertepi. Di berbagai sudut tempat pengungsian atau wilayah yang porak-poranda diterjang tsunami, gempa bumi yang lebih awal dan banyak didirikan adalah spanduk atau bilboard berukuran besar yang berisi janji-janji dan slogan dari ratusan NGO asing dan lokal yang saat itu hadir.
Tanpa upaya evaluasi dan perbaikan mendasar untuk mengembalikan hakikat rekonstruksi dan rehabilitasi semata bagi kepentingan rakyat, entah sampai kapan sebagian dari para korban bencana masih harus bertahan di dalam pengap dan lembabnya tenda-tenda darurat. Kita bisa melihat ini di sebagian kecil aceh dan di Sidoarjo, dan bahkan hari ini di Karanganyar Jawa Tengah. Sementara, pameran kemewahan dan gaya hidup hedonistik perlahan menyeruak di bagian lain di Bumi Nusantara ini
Pada era ketika individualisme meraih pencapaian tertinggi di puncak kejayaan materialisme seperti sekarang, spirit pengorbanan lebih bermakna ziarah kepada egosentrisme. Kini hal-hal yang menyangkut pengorbanan telah banyak yang hilang digantikan dengan spirit mengabdi kepada motif mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Semua dilakukan dengan pamrih yang kian lama kian menjauhkan individu dari ikatan-ikatan sosial. Menilik itu semua perlu dicari sebuah desain, strategi untuk bangkit dari bencana, yang disertai dengan strategi solusi yang meliputi pengorganisasian dan teknologi yang dibutuhkan. Setelah itu solusi tersebut baru diimplementasikan dalam sebuah manajemen. Karena itu, spirit yang terlahir menjadi sangat relevan hingga hari ini. Dalam konteks Indonesia, semangat ini bahkan telah menjadi sebuah urgensi. Banyak persoalan bangsa muncul akibat lemahnya spirit untuk berkorban bagi orang lain, spirit untuk berkorban bagi sesama.Yang jauh lebih menonjol dalam kehidupan sehari-hari sekarang adalah semangat untuk menang sendiri, kaya sendiri, berkuasa sendiri, dan benar sendiri. Spirit seperti ini sudah barang pasti tak menghiraukan penderitaan sesama.Korupsi, kolusi, dan konspirasi adalah fenomena yang terlahir dari dominasi tata nilai seperti itu. Dan menjadi sebuah kelaziman bila sebagai dampaknya lahirlah penyakit-penyakit sosial. Seperti kemiskinan, kebodohan, kejahatan, keterbelakangan, dan ketertindasan. karena bangsa ini masih berkubang dalam krisis setelah terpuruk Tepat pula karena di seluruh penjuru negeri kian banyak saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang membutuhkan uluran tangan akibat kehidupan yang serba kekurangan.Korban tsunami di Aceh dan Sumatra Utara masih banyak yang didera nestapa. Juga korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, korban banjir di Sumatra, dan korban lumpur panas di Sidoarjo. Ditambah hari ini korban longsor di Karanganyar, Semua kenestapaan itu menunggu pengamalan atas spirit yang membebaskan.
Sejak bergulirnya reformasi, sifat-sifat tolong-menolong di masyarakat kita telah mengalami kelunturan. Gotong-royong yang telah menjadi falsafah hidup nenek moyang kita bagai hilang tergerus zaman. Segala sesuatunya selalu diukur dengan materi dan uang. Di antara kita mungkin pernah menemui dalam kehidupan keseharian, bahkan untuk menshalatkan jenazah saja keluarga yang sedang berduka harus menyiapkan amplop. Materi telah menggoyahkan keimanan. Semoga saja hal ini tak terjadi pada diri kita. Sikap ramah sebagai bagian dari dimensi sosial itu juga terbawa arus reformasi. Entah kenapa masyarakat kita menjadi mudah tersulut emosi dan cepat marah. Tak jarang kita melihat aksi-aksi anarki yang mengiringi unjuk rasa berupa pembakaran fasilitas umum maupun properti milik individu.Kejadian-kejadian seperti ini tak cuma kita temui dalam kasus-kasus politik dan pilkada saja, tapi juga dalam kasus-kasus perbedaan keyakinan marilah semoga saja dengan teguran bencana ini dapat menyentak mata hati kita semua untuk menjaga sifat ramah dalam kehidupan sehari-hari
Bencana ini bukan disebabkan oleh tingginya curah hujan. bukan karena alam sudah tak ramah atau pula besi yang sudah berkarat Bencana ini terjadi karena kesalahan kita sendiri dalam mengelola semuanya, terlebih alam ini. Ketidakmampuan kita untuk menata pengelolaan hutan secara baik, kealpaan kita dalam pengeboran, semuanya membuat kita harus membayar kesalahan itu dengan sangat mahal. Kesalahan seperti ini bukan hanya monopoli kita. Di banyak negara pun, ambisi untuk membangun negeri membuat banyak sumber daya alam harus dikorbankan. Kita lupa bahwa kemajuan bukan hanya diukur dari banyaknya bangunan beton yang bisa kita dirikan. Kemajuan juga adalah kalau kita bisa hidup tenang, damai, dan tidak lagi ada ancaman. Karena itulah kita mengkritik pendekatan lembaga internasional dalam mengukur keberhasilan sebuah negara. Indikator pendapatan di bawah 2 dollar AS sebagai negara yang tertinggal membuat semuanya berlomba sekadar membangun ekonomi, lupa untuk juga membangun kehidupan sosial yang lebih seimbang.
Namun bencana yang bertubi-tubi ini juga telah menggugah seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa kecuali. Solidaritas luar biasa yang ditunjukkan oleh segenap lapian masyarakat telah memancarkan kembali kesadaran betapa kita memiliki modal dasar sosial yang tak ternilai untuk merajut masa depan yang penuh harapan. Kini berpulang kepada bangsa Indonesia sendiri, apakah mampu menjadikan bencana ini sebagai titik awal baru untuk bangkit dari keterpurukan di hampir segala bidang. Pembangunan kembali sarana dan prasarana fisik mungkin bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Namun tantangan terberat yang kita hadapi adalah membangun kembali asa jutaan manusia dengan seperangkat sistem sosialnya, dengan memelihara nilai-nilai dan karakteristik lokal masyarakat sehingga kebhinekaan bangsa tak mengalami reduksi. Tak terkandung sedikit pun niat kita untuk memperkeruh masalah, apalagi menghumbar sumpah serapah, karena dengan begitu kita hanya akan menambah pilu rintihan para korban dan cibiran masyarakat internasional. Kita cuma berharap agar bencana ini ditangani tidak secara biasa dengan cara-cara dan prosedur yang normal, melewati lorong-lorong birokrasi yang kaku, dengan pengorganisasian dan mekanisme yang baku.
Sudah saatnya bangsa ini membuka lembaran baru dengan tekad yang kuat untuk mengakhiri segala praktek bernegara yang terbukti membuat kita terpuruk berkepanjangan karena fondasinya yang rapuh. Bahu membahu seluruh elemen masyarakat dan pemerintah hendaknya tak sebatas pemberian bantuan, melainkan lebih jauh dari itu dengan memadukan segenap kekuatan di dalam satu kerangka jalinan sinergis
Akhirnya, pelajaran berharga yang patut pula kita tarik dari cobaan berat ini ialah, ternyata kita selama ini bernegara dan berbangsa secara amatiran, membangun tanpa konsep, miskin visi, dan membangun dengan cara “tambal sulam” Benar apa yang dilontarkan sastrawan asal Ceko, Milan Kundera, bahwa perjuangan terbesar kemanusiaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa, mari ditahun 2008 mendatang kita sama-sama bangkit dan berbenah.

* Pemimpin Umum Majalah PENDAPA Tamansiswa
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Site Info

Text

CERDAS POS Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template